BACA BERITA | RIYADH-
Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu 10 Oktober kemarin, menimbulkan korban jiwa dan luka-luka dari berbagai negara. Sejumlah jamaah umrah yang sedang dalam perjalanan menuju Tanah Suci juga dilaporkan menjadi korban.
Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi pada laporan awal menyebutkan, sedikitnya 12 orang tewas dan 309 lainnya terluka akibat serangan tersebut. Korban meninggal dunia berasal dari sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, Bangladesh, Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir.
Laporan Gulf News menyebutkan, jamaah umrah dan pengunjung Masjidil Haram di Makkah serta Masjid Nabawi di Madinah turut terdampak. Salah satu korban yang dilaporkan meninggal dunia adalah seorang ulama asal Bangladesh yang sedang dalam perjalanan untuk menunaikan ibadah umrah.
Dalam perkembangan berikutnya, laporan Reuters pada 12 Oktober menyebutkan jumlah korban tewas dalam serangan Sabtu tersebut mencapai 13 orang, sementara lebih dari 300 orang mengalami luka-luka. Perbedaan angka ini mencerminkan perkembangan laporan korban setelah kejadian.
Serangan tersebut juga merusak fasilitas bandara dan mengganggu penerbangan. Otoritas setempat sempat menghentikan operasional bandara serta mengalihkan penerbangan untuk keperluan keamanan dan penanganan darurat.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyalahkan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman atas serangan tersebut. Namun, laporan awal Reuters pada hari kejadian menyebutkan belum ada klaim tanggung jawab resmi saat itu.
Insiden ini menambah ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah serta menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan penumpang dan perjalanan udara internasional.
Sementara itu, jumlah keseluruhan jamaah umrah yang menjadi korban belum sepenuhnya dirinci dalam laporan yang tersedia. Perkembangan jumlah korban dan kondisi para penyintas masih menjadi perhatian otoritas terkait.
Sumber: Reuters, Gulf News, dan Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi.










